Dengar Baik-Baik Album The Changcuters

Musik
Typography

 

C&R Digital - Setelah tiga tahun ‘istirahat’ berkarya, kuintet rock n’ roll asal Kota Kembang, The Changcuters, kembali melepas album keenam, Binauralis, Rabu (1/3) di Jakarta Pusat. Album ini sebagai sekuel album Visualis (2013), bagian kedua dari rangkaian album yang dirancang menjadi trilogi.

Tria, vokalis, menyatakan album berisi 12 lagu ini adalah sebuah interpretasi terhadap suara yang bersahutan dari awal sampai akhir. Mengangkat nama yang tak biasa menjadi judul album, nama Binauralis diambil dari kata ‘Binaural’, yang berarti mendengarkan dari kedua telinga.

“Teknologi informasi sudah sangat cepat. Tapi, banyak informasi yang miss karena orang mulai jarang dengerin dan lebih banyak membaca. Bedanya, dulu (album Visualis, 2013) mata, sekarang telinga,” ucap Tria, mewakili teman-temannya. Sampul album bahkan dibuat gambar telinga untuk mempertegas pesan yang ingin mereka sampaikan.

Secara keseluruhan, album ini diisi lagu dan aransemen baru dengan tetap menunjukkan identitas mereka rock n’ roll. Sebelumnya, di 2016, mereka sudah melepas single Bentrok Sinyal dan Hmmmm.. Sudah Kuduga.

Pengerjaan album yang memakan waktu tiga tahun itu, lebih banyak bongkar pasang lirik dan aransemen agar keluar dari zona nyaman. Dikemas dengan gaya misterius, mereka menyelipkan banyak pesan tersirat di setiap track dalam album ini.

“Kami punya misi, tolong didengar baik-baik lagu kami. Banyak pesan tersirat. Bukan untuk konspirasi segala macam, tapi untuk menarik agar kembali mengasah pendengaran,” tukas Tria.

Mereka mengatakan, inspirasi membuat lagu bisa datang dari mana saja. Tria menuturkan, pengalaman pribadi atau observasi adalah inspirasi mendapat lagu. “Kita bukan tipikal yang bikin lagu marah-marah doang. Insya Allah, menawarkan solusi,” tambahnya.

Meski begitu, mereka tak menepis adanya perubahan gaya penulis materi dan ide dalam lagu-lagu The Changcuters. Hal ini diakui Qibil, gitaris, bisa terjadi karena mereka sudah memasuki fase hidup dengan pengalaman sampai referensi berbeda.

“Pertama dari umur. Kami enggak bisa buat karya yang sama dengan album pertama (Mencoba Sukses, 2006). Apalagi dipaksa bikin lagu seperti I Love U Bibeh atau Gila-Gilaan, enggak bisa. Sekarang beda pengalaman, umur, dan referensi,” ungkap Qibil.

Perubahan tersebut justru membuat inspirasi mereka kian terdorong keluar meski keadaan sudah berbeda dan tidak sebebas dulu.

 

BACA JUGA : 

Tegar Jual Motor Untuk Bangkit

Eksistensi JKT48 di Usia Kelima

Adriana Lima Ingin Jadi Biarawati