Khasiat Blewah vs Timun Suri (2)

Lifestyle
Typography

C&R Digital - Ragam jenis buah-buahan, tak terkecuali blewah dan timun suri memang menyegarkan dan menyehatkan untuk dikonsumsi. Blewah sendiri memiliki daging buah yang relatif lembut dan bertekstur. Di bagian dalamnya terdapat rongga yang berisi biji dan serat.

Sementara itu, di balik kulitnya yang tipis, timun suri yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus memiliki habitat berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan merupakan tanaman semusim; setelah berbunga dan berbuah tanaman mati. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik. Daging buahnya mengeluarkan aroma harum dan memiliki konsistensi yang rendah sehingga mudah hancur.

Secara khusus, blewah dan timun suri bagus untuk dikonsumsi mereka yang sedang mengikuti program diet. Blewah dan timun suri memiliki kadar manis yang rendah, sehingga bila dimakan cukup banyak akan mengenyangkan walau hanya menyumbang sedikit kalori.

Selain itu, kembali dipaparkan Inge, tidak ada dampak negatif tertentu akibat mengonsumsi kedua buah ini. Sejauh ini, ia juga belum mendapat laporan mengenai alergi blewah. “Kol dan beberapa jenis buah dan sayuran memang benar dapat menghasilkan gas yang akan membuat lambung menjadi teregang. Tapi, saya kurang tahu dan tidak yakin apakah timun suri bisa berdampak buruk serupa pada penderita maag. Sampai saat ini, belum ada yang melaporkan tentang alergi blewah, kecuali bagi mereka yang memang harus membatasi buah-buahan atau cairan,” beber Inge.

Mengontrol Kadar Gula

Pada umumnya, segala jenis buah-buahan berperan penting sebagai pemberi tenaga melalui gula (fruktosa) dan karbohidrat yang terkandung di dalamnya. Fruktosa itu sendiri banyak ditemukan pada buah segar yang berair, seperti semangka, pepaya, dan apel. Adapun glukosa banyak terdapat pada karbohidrat dan bentuk gula sederhana, seperti gula pasir, gula merah, dan sirup.

Gula jenis fruktosa yang terkandung pada buah-buahan relatif lebih aman bagi tubuh karena tidak membutuhkan hormon insulin untuk bisa diserap sel-sel tubuh. Sebaliknya, gula jenis glukosa akan membuat kerja pankreas sebagai penghasil hormon insulin menjadi berat. “Seperti mesin, kalau terlalu sering dipakai, ya akan cepat rusak,” kata dokter spesialis gizi klinik Samuel Oetoro, M.S., Sp.G.K.

Seperti diungkapkan Samuel, jadwal dan cara makan buah yang tepat bisa menjaga kadar gula darah dalam tubuh. Buah-buahan yang mengandung kadar serat tinggi seperti apel dan pir sangat baik dalam menjaga kadar gula bertahan lebih lama dalam tubuh.

"Cara terbaik mengonsumsinya yaitu dengan menyantap langsung maupun dengan cara diblender, bukan dijus. Sedangkan untuk mempercepat naiknya kadar gula dalam tubuh, bisa dimasukkan dalam juicer,” pungkas Samuel.

 

BACA JUGA : 

Karena Status Instagram, Mantan Istri Deddy Corbuzier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Tiga Karakter Baru di Ayat Ayat Cinta 2

Boyzlife, Konser untuk Penggemar Boyzone dan Westlife di Indonesia