Meningkatkan Kualitas Tidur saat Berpuasa (1)

Lifestyle
Typography

 

C&R Digital - Tidur, ternyata tak sekadar urusan memejamkan mata. Justru saat tidur, organ tubuh akan “direparasi” agar siap untuk digunakan kembali.

Selain menahan lapar dan dahaga, berpuasa dalam arti fisik juga bisa berarti berjuang menahan rasa kantuk. Bagaimana tidak, berubahnya pola aktivitas saat Ramadan mengubah juga ritme tidur yang sebelumnya terbangun.

Sedikitnya, beribadah sampai jelang malam lalu bangun untuk sahur, membuat porsi tidur pada malam hari ini mau tak mau jadi terpangkas. Inilah yang kemudian menyebabkan kebanyakan orang yang berpuasa merasa mengantuk pada siang harinya. Terutama bagi mereka yang tidak atau belum terbiasa berpuasa. Padahal, minimnya waktu tidur dapat menurunkan kemampuan kognitif dan berpikir otak. Keadaan ini juga dapat “memorak-porandakan” kondisi mental dan emosional sehingga memicu depresi dan berbagai macam penyakit berbahaya.

“Tidur jangan diartikan sebagai sesuatu yang pasif dan tidak produktif,” ujar dr. Andreas A. Prasadja, R.P.S.G.T. “Konsep ini yang ingin saya ubah dari pandangan kita selama ini. Karena hanya dengan tidur, daya tahan tubuh meningkat dan organ-organ dalam tubuh akan direparasi sehingga siap untuk digunakan kembali keesokan harinya.” Andreas adalah dokter kesehatan tidur pertama di Tanah Air. Gelar R.P.S.G.T. di belakang namanya merupakan kepanjangan dari Registered Polysomnographic Technologist, semacam sertifikasi bagi dokter untuk bisa menerapkan teknologi kedokteran yang berkaitan dengan masalah tidur. Sleep Disorder Clinic di RS Mitra Kemayoran, Jakarta, tempat Andreas berpraktik bahkan merupakan klinik pertama di Indonesia untuk mengatasi berbagai masalah gangguan memejamkan mata.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada tubuh saat tidur? Berkebalikan dengan kondisi badan luarnya, hormon dalam tubuh justru mulai beraktivitas saat mata terpejam. Selain hormon pertumbuhan yang bekerja meregenerasi sel, tidur terutama dalam keadaan gelap juga memproduksi hormon melatonin. Hormon melatonin dihasilkan oleh kelenjar pineal di dalam otak dengan kadar tertinggi ditemukan menjelang pagi hari dan paling rendah di sore hari.

Hormon ini mengatur bioritme atau irama tubuh dalam hal pengaturan tidur. Manfaat lainnya yaitu sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan air, meningkatkan imun tubuh, menimbulkan relaksasi otot serta membantu meningkatkan mood dan menghilangkan ketegangan. “Tidak ada satu pun zat yang bisa menggantikan efek dari tidur,” tegas Andreas.

 

BACA JUGA : 

Victoria Beckham, Rahasia Keluarga Harmonis

Chrissy Teigen, Sekolah Kecantikan Gratis

Camila Cabello, Lagu untuk Imigran