Meningkatkan Kualitas Tidur saat Berpuasa (2)

Lifestyle
Typography

 

C&R Digital - Selain menahan lapar dan dahaga, berpuasa dalam arti fisik juga bisa berarti berjuang menahan rasa kantuk. Bagaimana tidak, berubahnya pola aktivitas saat Ramadan mengubah juga ritme tidur yang sebelumnya terbangun.

Nilai Penting Tidur

Kebanyakan orang menganggap tidur sebagai aktivitas pasif yang hampir tidak memiliki manfaat. Posisinya berada di akhir siklus rutinitas keseharian, mulai dari bangun tidur, bekerja atau beraktivitas dan kemudian lelah, lalu istirahat dan tidur.

Faktanya, tidur dan segala hal yang menyertainya tidaklah sesederhana meletakkan tubuh di kasur empuk dalam ruangan yang sejuk dan bercahaya temaram. Hasil rekaman gelombang otak (EEG), yang merupakan bagian dari sleep study, para ilmuwan menemukan bermacam-macam gelombang otak yang membagi tidur dalam beberapa tahap.

Tidur juga bukan aktivitas bermalas-malasan karena banyak hal tidak terlihat tapi justru memengaruhi dan dipengaruhi olehnya. Bahkan, kualitas tidur yang baik mampu berperan melebihi fungsi multivitamin maupun suplemen kesehatan apa pun.

“Justru orang yang cerdas, tidur dengan baik supaya pada saat terjaga produktivitasnya tinggi karena hanya pada saat tidurlah kemampuan otak, analisis, kreativitas dijaga. Banyak sekali saya menemui gangguan kesehatan dan produktivitas karena tidur yang tidak adekuat,” terang Andreas.

Menurut Andreas, kurangnya tidur menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Pada anak-anak, kondisi ini menyebabkan proses tumbuhnya terganggu akibat tidak teraturnya produksi hormon pertumbuhan. Sementara pada orang dewasa, kurang tidur menyebabkan penyakit hipertensi, diabetes, gangguan jantung, hingga stroke. “Semua ini berkait dengan aktivitas saraf,” tegas Andreas.

 

BACA JUGA : 

Bisnis Baru Dodhy Eks ‘Kangen Band’

Aliando Syarief, Unjuk Gigi Lewat Single “Buktikan Hari Ini”

Kala Thor Berambut Cepak