Menyiasati Kulit Kering saat Berpuasa (1)

Lifestyle
Typography

C&R Digital - Pola konsumsi makanan dan minuman yang tidak seimbang saat berpuasa kerap menjadi biang keladi kekeringan pada kulit.

Ramadan kali ini sangat dinikmati Santi, karyawan perbankan nasional yang berkantor di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Meski udara Jakarta akhir-akhir ini cukup panas, ia tidak merasakan dahaga. Bisa dikatakan, kondisi kerongkongannya pun relatif stabil.

Sayangnya kenikmatan Santi berbanding terbalik dengan kondisi kulitnya. Sejak berpuasa, lajang warga Bekasi Timur itu mengeluh dengan kulitnya yang cenderung lebih kering dari biasanya. Bahkan, bedak dan tata rias lainnya seperti tidak menyatu dengan wajah. Tak heran penampilannya menjadi terlihat aneh.

Apa yang dialami Santi bisa juga terjadi pada wanita lainnya, meskipun tidak semua orang mengalami perbedaan yang dramatis. Seperti diungkapkan Yustin Sumito, kondisi kulit seseorang tak bisa dilepaskan dari jenis kulit itu sendiri. “Pada dasarnya, ada tiga jenis kulit manusia, yaitu kulit normal, berminyak, dan kering,” urai Yustin dokter spesialis kulit dan kecantikan yang ditemui beberapa waktu lalu.

Mereka yang berkulit normal memiliki tingkat kelembapan yang relatif stabil. Sedangkan tipe kulit berminyak cenderung sangat ‘lepek’ lantaran kadar minyak yang tinggi. “Mereka yang berkulit keringlah yang paling rawan saat berpuasa,” kata Yustin.

Dipaparkan Yustin, dalam kondisi tidak berpuasa, kadar air mereka yang berjenis kulit kering sudah minim. Hal ini kemudian diperparah dengan berkurangnya asupan air saat berpuasa. “Tapi sebenarnya kondisi ini bisa disiasati dengan minum air dalam jumlah cukup saat malam hari. Intinya, dalam satu hari paling tidak harus mendapat asupan air sebanyak dua liter,” tegasnya.

Meski demikian, mereka yang memiliki jenis kulit normal dan berminyak tidak serta-merta terbebas dari kondisi kekeringan. Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi kadar air pada kulit seseorang. Salah satunya yaitu paparan sinar matahari langsung dan terus-menerus. Sinar ultraviolet matahari menyebabkan elastin dan kolagen yang menjaga kelenturan dalam lapisan dermis kulit menjadi rusak.

Faktor lain yaitu polutan seperti debu dan asap rokok, paparan suhu AC, serta kurangnya vitamin yang dibutuhkan kulit seperti vitamin E dan vitamin C.

Tidak sedikit pula kulit kering saat berpuasa akibat berkurangnya aktivitas. Aktivitas yang berkurang membuat tubuh tidak mudah berkeringat, dengan begitu kelembapan kulit pun menjadi berkurang.

“Keringat tidak mempengaruhi kelembapan. Jadi, aktivitas yang berkurang tidak cukup signifikan untuk membuat kulit menjadi kering saat puasa. Kulit yang cenderung kering saat puasa lebih dikarenakan kekurangan minum. Tetapi, jika jumlah air minum yang dikonsumsi cukup maka hal tersebut tidak akan terjadi,” jelas Yustin.

Tinggi rendahnya kadar minyak seseorang juga sangat dipengaruhi faktor hormon. Hormon estrogen pada wanita dan hormon androgen pada pria akan mempengaruhi kelenjar minyak dalam diri individu. Kelenjar minyak inilah yang akan mempengaruhi terbentuknya kondisi kulit.

Individu yang cenderung memiliki jenis kulit kering kemungkinan diakibatkan hormon-hormon tadi tidak bekerja secara sempurna sehingga kelembapan kulit menjadi terganggu. Lambat laun, proses pengelupasan atau regenerasi kulit pun ikut terganggu.

Jika proses regenerasi kulit biasanya terjadi selama 28 hari sekali, maka terganggunya proses kelembapan kulit membuat proses ini menjadi ngaret. Efeknya, kulit terlihat lebih kering dan kusam.

Kondisi ini bisa diperparah oleh lingkungan yang tingkat kelembapannya sangat rendah seperti di ruangan ber-AC. Tak heran jika AC kemudian dituding menjadi biang keladi kulit kering.

 

BACA JUGA : 

In Memoriam Bartje Van Houten

Hardi Fadhillah, Main Burung Lepas Penat

Julia Roberts Deg-Degan Ketemu Ronaldo