Acha Septriasa, Mengagumi Kuil Sensoji (4)

Lifestyle
Typography

 

C&R Digital - Aku kemudian ke kawasan Asakusa. Dengan berkendara kereta api, dari pusat Tokyo ke Asakusa membutuhkan waktu selama 18 menit. Asakusa ini dikenal juga sebagai Old Tokyo. Karena disini masih banyak rumah-rumah warga yang dibangun dengan gaya tradisional Jepang.

Di Asakusa aku mengunjungi Kuil Sensoji. Kuil yang paling tua di Jepang. Dibangun pada sekitar abad 7 M. Aku kagum dengan keindahan kuil itu. Bangunannya didominasi oleh warna merah. Ada juga aksesoris huruf kanji didinding-dindingnya. Di terasnya juga banyak lampion. Aku sengaja selfie di depan kuil itu. Hehe.

Meskipun kuil itu merupakan obyek wisata, tapi masih digunakan untuk tempat beribadah oleh warga setempat. Keunikan yang aku lihat, wanita-wanita Jepang yang berdoa di sini mengenakan busana tradisional Jepang, Kimono.

Untuk masuk ke kompleks kuil ini, aku harus melalui suatu lorong. Di kanan-kiri lorong itu banyak toko-toko yang menjual bermacam-macam suvenir, seperti t-shirt, topi, gantungan kunci hingga miniatur kuil Sensoji. Aku membeli beberapa gantungan kunci.

Di lorong itu juga banyak restoran. Eh, ternyata di kawasan ini juga ada restoran halal, lo. Namanya restoran Sekai. Di sini tidak ada menu daging babi maupun minuman beralkohol. Hebat ya. Waitress-nya pun melayaninya dengan menggunakan bahasa Inggris. Aku sempat makan siang di sini.

Di kawasan Asakusa ternyata juga banyak becak tradisional Jepang, Jinrikisha. Jadi becaknya ditarik dengan tenaga manusia.