Indra Bekti, Cappadocia Seperti Bulan (5)

Lifestyle
Typography

 

 

C&R Digital - Aku lalu ke Cappadocia. Letaknya, dua belas jam perjalanan dari Kota Istanbul ke arah selatan dengan menumpang bus. Kota Cappadocia itu merupakan kota kuno. Warganya hidup di sini pada abad ke 5-10 Masehi.

Wilayah Cappadocia adalah wilayah gersang yang terdiri dari batu-batu besar dan bukit batu. Kata pemanduku, bukit-bukit itu merupakan lava dari letusan gunung ribuan tahun lalu. Wilayah itu memang banyak gunung.

Dulu warganya hidup dengan cara memahat batu-batu dan bukit itu menjadi rumah mereka.

Warga bukan saja membuat rumah di batu yang ada di permukaan tanah, tetapi juga membuat rumah dengan memahat ke dalam tanah.

Kata pemandu wisataku, pada sekitar abad 3-10 Masehi di situ tinggal orang-orang yang beragama Kristen. Mereka sering dikejar oleh tentara Romawi. Sehingga mereka membuat rumah di gua-gua. Di sana juga banyak batu yang dipahat menjadi gereja. Bentuknya runcing-runcing.

Jadi, kalau ingin melihat kehidupan di bulan, enggak usah pergi ke bulan, tetapi cukup mendatangi Cappadocia. Karena alamnya, kata pemanduku, mirip dengan kondisi alam di bulan.

Nah, salah satu objek wisata di sana adalah naik balon udara. Aku kira naik balon udara itu bisa sembarang waktu. Eh, tahunya tergantung kecepatan angin. Hari pertama aku gagal naik balon. Hari kedua baru diizinkan jalan-jalan mengarungi angkasa Cappadocia.

Waktu baru naiknya sih agak ngeri. Tetapi ternyata pengemudinya pintar juga. Jadi naiknya pelan-pelan. Jalannya balon sangat lancar, enggak berasa. Enggak ada goncangan-goncangan. Tahu-tahu aku sudah terbang jauh. Hahaha. Balonku mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan tanah. Jadi antara senang dan deg-degan.

Aku terbang selama satu jam, sebelum kemudian mendarat. Cara pendaratannya dengan mengurangi perapian yang diarahkan ke mulut balon.