IWAPI Gandeng OJK dan KPK Hindari Penipuan dan Korupsi

Fokus
Typography

 

C&R Digital - IWAPI menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan (Komisi Pemberantasan Korupsi) KPK untuk mengajak anggotanya dalam melakukan penyimpanan, investasi, dan pinjaman di lembaga keuangan yang telah diawasi oleh OJK. Upaya itu dilakukan untuk menghindari penipuan dan pencegahan tindak pidana korupsi dan suap.

Ketua Umum DPP Iwapi Nita Yudi menekankan perlunya strategi perempuan pengusaha, khususnya bergelut di bidang UMKM agar bisa bersaing. "Karena itu, Iwapi melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM melalui digital marketing sebagai strategi pemasaran untuk menembus pasar global," ujarnya di acara seminar Ultah IWAPI ke 42 tahun di Thamrin City, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (10/2).

Selain Nita Yudi, seminar dihadiri Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, Dewan Pembina IWAPI Dewi Motik, dan Wakil ketua KPK Irjen Pol (Purn) Basaria Panjaitan.

Nita melanjutkan, memasuki usai ke-42 tahun, Iwapi terus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian. Di hari jadinya itu, Iwapi memberikan bantuan modal kepada sepuluh pedagang perempuan kecil di sekitar kantor Iwapi. “Kami memberikan motivasi, pelatihan, roadshow baik bersama pemerintah untuk perempuan untuk menjadi pengusaha," katanya.

Selama 42 tahun berkarya, Iwapi telah berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian, khususnya sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Langkah itu diharapkan bisa menggiatkan dan menggerakkan roda perekonomian Indonesia sehingga hasilnya dapat dirasakan secara inklusif melalui promosi aktif produk-produk lokal untuk memenangkan pasar global.

Dalam perkembangan dunia usaha, perempuan pengusaha harus melihat ekonomi dunia. "Artinya mempunyai produk bukan hanya untuk ASEAN juga harus merebut globalisasi. Untuk itu kita harus menyiapkan strategi program-program untuk mencapai semua itu," kata Nita Yudi.

Nita menambahkan, menghadapi perkembangan dunia usaha saat ini, diperlukan strategi bagi para perempuan pengusaha, khususnya sektor UMKM dalam menghadapi tantangan perekonomian global. Strategi tersebut berupa program kerja yang dapat memberi nilai tambah kepada para anggota Iwapi, baik berupa kebijakan pemerintah, swasta, maupun program lain yang berasal dari institusi mitra Iwapi.

Menurut Nita, tantangan perempuan pengusaha saat ini adalah sistem budaya patriaki yang menomorduakan perempuan. Kaum hawa tidak boleh sekolah tinggi serta warisan hanya untuk anak laki-laki. Padahal jumlah perempuan yang menjadi pengusaha cukup signifikan. Selain memberi kontribusi cukup tinggi untuk pertumbuhan ekonomi, para pengusaha perempuan merupakan pengembali kredit terbaik.

Nita menuturkan, pemerintah juga harus mendukung perempuan pengusaha dengan memberi kredit yang murah serta kemudahan berusaha. "Perempuan pengusaha adalah pengembali kredit terbaik. Jadi kalau kita pinjam ke bank, NPL pasti nol persen. Di Vietnam, Thailand, bunga kredit 2 persen. Pemerintah mereka sangat mendukung pengusaha. Harusnya pemerintah melihat ini sehingga bisa pro kepada perempuan pengusaha," tuturnya.

Nita berharap, Iwapi diikutsertakan dalam pembuatan kebijakan yang berpihak kepada perempuan pengusaha. Misalnya, bunga kredit yang sangat rendah, pajak yang dihitung dari porfit bukan omzet, dan peluang yang lebih besar dalam proyek pemerintah terutama di bidang kuliner, garment, handycraft.

Kemudahan Akses Keuangan

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad mengatakan, kemudahan akses keuangan menjadi program pemerintah terutama bagi pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

"Pengusaha pemula seperti startup karena belum punya track record, sulit mencari pendanaan. Ini juga menjadi perhatian pemerintah bagaimana membuka akses keuangan untuk para pengusaha pemula," ujarnya.

Menurut Muliaman, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan kredit dengan bunga yang disubsidi cukup. Dibandingkan bunga dua tahun lalu sebesar 22 persen, bunga kredit sekarang jauh lebih rendah, yakni 9 persen.

"Tentu kita menginginkan yang lebih murah lagi. Sambil berjalan, komitmen pemerintah tidak hanya mempermudah akses tetapi juga menurunkan bunganya," ungkapnya.

Saat ini sedang dikembangkan beberapa skema pembiayaan, salah satunya modal ventura. "Di beberapa kota sekarang ini berkembang modal ventura. Biasanya mereka yang masih kuliah mau bikin usaha, susah karena tidak punya track record, model-model seperti ini bisa dibantu dengan modal ventura," jelas Muliaman.

Ia menambahkan, edukasi keuangan terutama kepada perempuan pengusaha menjadi penting sehingga masih perlu didorong dan ditingkatkan. "Ini penting bagi kita semua terutama ibu-ibu yang pegang uang. Biasanya mengiming-iming bunga yang sangat tinggi dan membuat orang tergiur sehingga tidak berpikir ulang," tuturnya.

 

BACA JUGA : 

Tantowi Yahya, Koleksi Piringan Hitam Masa Kecil

Gary Barlow 14 Tahun tanpa Keramas

Jadwal Keramas Para Selebriti