“Cantik Itu Luka”, Terinspirasi Jugun Ianfu (2)

Fokus
Typography

 

 

C&R Digital - Sang penulis, Eka Kurniawan, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 November 1975. Selain menulis novel, jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini juga membuat komik. Eka menghabiskan masa kecil di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, yang jadi sumber cerita novel-novelnya. Ia misalnya, menulis novel ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ lantaran terganggu dengan kasus perkosaan yang terjadi di daerahnya.

Ia memasukkan tokoh dua orang polisi sebagai pelaku pemerkosaan, yang ia jadikan simbol kebobrokan negeri ini: penegak hukum yang melakukan pelanggaran hukum. Sedangkan tokoh sopir truk yang menjadi tokoh utama novel ini terinspirasi ketika ia tak sengaja bertemu sopir truk di Tanjung Priok saat berkunjung ke sana untuk menemui teman atau saudara.

Tentang novel ‘Cantik Itu Luka’, Eka mendapat inspirasi dari cerita sejarah yang diubahnya menjadi cerita parodi. Novel ini berkisah tentang sejarah Jugun Ianfu (perempuan pribumi yang diperkosa dan dijadikan pelacur saat penjajahan Jepang), tetapi ia tidak mengatakannya.

Eka memfiksikan fakta sejarah. Eka rupanya terinspirasi dari novel-novel Pramudya Ananta Toer. Perbedaan kedua penulis ini dari teknik bercerita. Jika Pram lebih suka menulis seperti jurnalisme sastrawi, Eka lebih suka menulis dengan gaya parodi. Sejarah kelam bangsa ini bisa dinikmati dengan cara yang lebih menghibur.

Novel 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas' terbit setelah 8 tahun novel keduanya “Lelaki Harimau” muncul. Sebelumnya, Eka telah memulai kiprahnya di panggung sastra Indonesia lewat kumpulan cerpen yang diterbitkan secara indie ketika ia masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM, berjudul 'Corat-coret di Toilet' (2000).

Bersamaan dengan terbitnya 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas', Gramedia juga merilis ulang 'Corat-coret di Toilet'. Sambil menikmati dua buku barunya itu, Eka disibukkan dengan urusan persiapan penerbitan versi terjemahan bahasa Perancis 'Lelaki Harimau'.

Senada dengan judulnya yang unik, novel ini menampilkan desain sampul yang juga menggelitik. Seekor burung yang lucu nan cantik, seperti sedang tidur, dengan bulu-bulunya yang warna-warni, di atas latar warna merah muda yang mencolok mata. Kata-kata yang menjadi judul novelnya "menyebar" di atas burung itu.

Bukan kebetulan jika burung ditampilkan sebagai bagian dari desain sampul novel tersebut.

Novel ini memang bercerita tentang "burung", alias kelamin pria. Novel ini dibuka dengan kalimat yang mengejutkan, dan langsung bikin penasaran: “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati”.

Penyataan itu menggambarkan sosok sang tokoh utama, Ajo Kawir, seorang jagoan kampung tukang berkelahi. Ia tengah bergelut dengan nasibnya, nyaris putus asa, gara-gara "burung"-nya yang mendadak tak bisa berdiri. Hal itu terjadi setelah ia mengintip dua orang polisi yang memperkosa perempuan gila di sebuah rumah kosong di kampungnya.