Zulkifli Hasan-Soraya, Pendidikan Nomor Satu (3)

Fokus
Typography

 

 

C&R Digital - Sebagai pejabat negara, konsekuensinya Zulkifli jarang bertemu dengan anak-anak. Seperti saat wawancara, salah satu anaknya ulang tahun. Ia hanya bisa menelepon karena harus kunjungan ke daerah. Begitu sampai rumah, anak dan istrinya sudah ke luar beraktivitas. Praktis, dalam seminggu tidak ada waktu khusus untuk keluarga. Dulu anaknya sempat protes karena kesibukannya yang tinggi. Lama-lama sudah biasa.

“Mereka bisa paham, ayahnya jarang di rumah. Yang penting, nilai-nilai hidup saya ajarkan ke mereka. Taat pada aturan,termasuk nilai-nilai agama. Tapi nomor satu, saya tekankan mereka menguasai ilmu pengetahuan. Termasuk hidup jangan bermewah-mewah,” ujar Zulkifli.

Bagi Zul, warisan ilmu pengetahuan akan lebih berharga kelak, dibanding harta benda. Ia pun tak segan-segan memberikan sekolah terbaik pada anak-anaknya. Zul bersyukur, istrinya banyak berperan atas keberhasilan anak-anaknya sekolah. Dari mulai mencarikan tempat les sampai sekolah paling bagus di Jakarta dan luar negeri. Juga les-les seni berupa tari dan musik.

“Anak-anak sejak SD sudah belajar musik. Ada juga yang senang lukis, terutama yang bungsu. Yang penting ada keseimbanganlah. Selain itu, saya selalu tekankan agar mereka jaga nama baik. Di sini, istri saya ketat ya? Meski anak laki, pulang malam ditunggui. Tidak boleh nginap di rumah teman. Lama-lama anak-anak terbiasa dengan aturan ini,” kata Zul.

Zul juga selalu mengajarkan anak-anaknya untuk menggunakan segala sesuatu menurut fungsinya. Tidak berlebihan. Dengan empat anak dan tiga cucu, Zul bahkan lebih senang menghabiskan waktu di rumah berkumpul. Jika ada waktu lebih longgar, mereka menghabiskan waktu dengan makan di luar bareng-bareng. “Liburan yang jauh jarang karena harus bermalam. Itu bikin repot,” kata Zul.

Dulu saat jadi menteri, ia memang sengaja mengajak anaknya kalau sedang ada kunjungan kerja. Itu pun jika sang anak sedang libur. Misal ke laut, anak-anak ikut sekadar untuk diving. Jika ada kunjungan kerja ke taman nasional, anak-anak diajak melihat orang utan. “Itu liburannya. Sambil menyelam minum air, hehehe. Yang penting mereka senang,” kata Zul.

Dari ke empat anaknya, hingga kini belum ada satupun yang tertarik dunia politik. Zul tak tahu. Tapi ia juga tak mau tahu, karena anak-anaknya pasti punya pertimbangan sendiri. Zulkifli menduga, anak-anaknya ingin mapan dulu secara ekonomi, sebelum benar-benar total berpolitik. “Tapi saya yakin mereka lebih pintar dari saya, untuk mempertimbangkan mau jadi politisi atau tidak,” ujar penggemar olahraga ini.