Film Salawaku Bikin Karina Salim Merinding

Film
Typography

 

C&R Digital - Artis Karina Salim (25) merinding melihat film 'Salawaku' disaksikan orang banyak.di Jepang. Ia terharu ketika pemutaran perdana film 'Salawaku' di Tokyo, Jepang mendapatkan sambutan positif. Apresiasi yang diberikan para penonton di Negeri Sakura itu membuat Karina sangat tersanjung.

"Ketika diputar world premier di Tokyo, semua tiketnya sold out dan semua yang nonton berkaca-kaca kagum. Saya merasa kagum sampai merinding mendapatkan apresiasi yang demikian besar," ungkapnya ketika jumpa pers di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, rabu (22/2).

"Kita merasa tersanjung bisa disupport dan harapannya tentu bisa mendukung terus perfilman Indonesia yang berkualitas," ujar cucu pahlawan nasional H. Agus Salim itu.

Proses syuting dilakoni selama 2 bulan penuh (Juni-Juli 2015 silam) saat bulan puasa dan faktor cuaca yang acap kurang bersahabat membuat aktris Karina Salim mengakui jika proses syuting lumayan berat. "Syuting nonstop, cuacanya panas banget," ucapnya.

Namun, Karina mengakui berhasil menghadapi berbagai tantangan di lokasi dan sukses membawakan perannya dengan sangat baik.

Film Salawaku, yang diproduksi oleh Kamala Films dan di sutradarai oleh Pritagita Arianegara, mengambil latar belakang wilayah Provinsi Maluku, tepatnya Pulau Seram Bagian Barat. Bisa dibilang, film ini menghadirkan eksotisme keindahan alam Indonesia bagian Timur yang mempesona.

"Saya sangat bangga karena film ini menampilkan keindahan panorama alam Maluku, khusunya di Pulau Seram. Terlebih, film ini juga menampilkan indahnya laut Maluku," kata Executive Producer Film Salawaku, Ikhsan Tualeka.

Film ini mengekspos eksotisme tanah Maluku yang digarap apik oleh cinematographer, Faozan Rizal, jalan cerita film yang ditulis Iqbal Fadly, siap mengaduk-aduk emosi penonton sepanjang film.

"Sebagai film yang berlatar desa di timur Indonesia, Salawaku tak akan sukses tanpa keterlibatan 80 persen pemain Maluku di dalamnya yang seluruhnya berdialog dengan bahasa daerah," ujarnya.

Menurut Ikhsan, Salawaku merupakan perisai atau alat perang tradisional di Maluku, yang kemudian dipilih untuk menjadi nama karakter dalam film.

"Maluku mempunyai ratusan bahasa dan etnis sehingga membutuhkan tradisi besar dengan satu simbolik yang diwujudkan pada Salawaku. Salawaku berarti bertahan, bersabar, tameng dan psikologi orang Maluku dalam menahan amarah," jelasnya.

Salah satu alasan produser memilih lokasi syuting di Kota Piru, Seram Bagian Barat, Maluku, dikarena lokasi tersebut maish menjaga kearifan lokal.

Film Salawaku juga mendapat kehormatan menjadi film Indonesia pertama yang didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam rangka meningkatkan dan memajukan industri perfilman Indonesia.

 

BACA JUGA : 

Cahaya Cinta dari antv

Insting Glenn Fredly untuk Anak Didik

SinemArt Hijrah dari RCTI ke SCTV