Penulis Skenario “7 Manusia Harimau” Dikira Piara Tuyul

Film
Typography

 

 

C&R Digital - Meskipun baru tayang selama empat bulan atau 120 hari, sinetron 7 Manusia Harimau sudah mencapai episode 250. Sinetron itu memang tayang dua episode setiap hari. Dengan demikian, setiap harinya Yanti Puspitasari pun harus menulis dua skenario. Untunglah Puspitasari dan timnya mampu memenuhi tuntutan tersebut.

Sebagai penulis skenario yang sudah senior, honor Yanti terbilang besar. Sejauh ini ia belum bersedia menyebut total honor yang diterimanya. Yang jelas, dari pekerjaan itu ia bisa memiliki rumah dan mobil mentereng. Ia baru saja membeli apartemen di kawasan Kedoya dan Honda Accord model terbaru.

Yanti bekerja sembilan jam sehari. Inilah yang membuat ia jarang bisa bergaul dengan para tetangga, apalabi jalan-jalan keluar rumah. Yanti lebih banyak mengetik skenario di kamarnya.

Tak heran jika para tetangganya sempat mencurigai Yanti memelihara tuyul. Bisa kaya tanpa bekerja. “Iya, saya sempat dicurigai tetangga piara tuyul. Mereka heran, saya tidak pernah kelihatan pergi bekerja, tetapi saya mampu membeli rumah dan mobil yang bagus,” ujar Yanti saat dijumpai dalam seminar Penulis Skenario Perempuan, di Jakarta, Rabu (27/5).

Yanti memulai karier sebagai penulis skenario untuk drama sebuah stasiun televisi pemerintah (1993). Ia kemudian menggarap skenario sinetron stripping, ketika diminta sebuah production house untuk tayangan bulan Ramadhan.

Karyanya yang cukup monumental, saat ia menggarap skenario sinetron Tersanjung (2005). Sinetron itu mencapai 360 episode, dan mendapat penghargaan rekor MURI sebagai sinetron terpanjang.
Sekarang Yanti bekerjasama dengan SinemArt Production. Selain menggarap skenario sinetron 7 Manusia Harimau, Yanti juga menulis \ skenario sinetron Jilbab in Love.

Yanti memang dituntut harus mampu memenuhi tuntutan industri hiburan. Ia harus menyiapkan dua skenario, bahkan membuat skenario baru jika ada artis yang berhalangan hadir.

Yanti menulis skenario mulai pukul 07.00 sampai 12.00 WIB. Setelah itu ia baru melakukan perkerjaan lain, seperti membaca atau bergaul dengan komunitas. Ia kembali menulis skenario pada pukul 20.00- 24.00 WIB.

Untuk menambah wawasan, di rumahnya Yanti berlangganan surat kabar, tabloid, majalah wanita, majalah gaya hidup, hingga National Geographic. Semua jenis ilmu pengetahuan ia lahap. Menurut Yanti, seorang penulis skenario harus mengetahui banyak hal.

Namun demikian, sesibuk apapun Yanti, ia selalu menulis skenario dengan rasa cinta. Ia berkeyakinan, jika menulis dengan rasa cinta, maka gelombang positif itu akan sampai ke penonton sinetronnya. “Jika menulis dengan rasa cinta, kita tidak akan merasa bosan. Padahal karier saya sudah berlangsung selama dua puluh tahun lebih,” katanya.