Kongkalikong di Ajang Penghargaan (1)

Film
Typography

 

 

C&R Digital - Kontroversi pemberian penghargaan pada Angel Pieters, menjadi kasus kesekian yang melanda ajang pemberian apresiasi di bidang film. Kasus ini seolah mengingatkan kembali hiruk pikuk ketidakpuasan, yang juga sempat terjadi di masa lalu. Inilah beberapa catatan di antaranya.

Tuduhan adanya “permainan” atas kemenangan Angel Pieters dalam penganugerahan Indonesian Movie Awards (IMA) 2015 sebagai Soundtrack Film Terfavorit, memang bukan hal baru. Angel yang membawakan lagu Indonesia Negeri Kita Bersama untuk film Di Balik 9 dituduh sebagai artis karbitan MNC Group dan nominasi serta kemenangannya lantaran ada intervensi oleh petinggi MNC dalam ajang penghargaan yang digelar oleh grup RCTI tersebut.

Kecurigaan beberapa pihak ini memang berasalan. Kebetulan nama Angel Pieters sempat tak masuk dalam nominasi. Di sisi lain, lagu itu adalah ciptaan Liliana Tanoesoedibjo, pemiliki MNC grup. Menyikapi hal ini, dewan juri IMA 2015 berkelit pihaknya tidak ikut campur tangan menangani kategori terfavorit. Mereka hanya menilai kategori terbaik.

Sesungguhnya, kasus yang menimpa Angel, sudah jamak terjadi. Ketidakpuasan bisa datang dari mana saja, meski dengan alasan keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat, ketidakpuasan itu lebih banyak jadi ajang debat publik belaka. Mungkin hanya satu yang berujung pada pembatalan, seperti saat film Ekskul meraih penghargaan sebagai Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2006. Selebihnya, seperti hilang ditelan angin.

Menariknya, kontroversi penghargaan itu bahkan sudah terjadi di tahun 1955, saat FFI pertama kali diadakan. Digagas oleh H. Djamaluddin Malik dan H. Usmar Ismail, saat itu, nama ajang penghargaan ini adalah Pekan Apresiasi Film Nasional. FFI selanjutnya diadakan pada tahun 1960, tahun 1967, dan barulah pada tahun 1973, FFI rutin diselenggarakan tiap tahunnya.