Morgan Oey, Tidur di Atas Anyaman Bambu di Kyoto

Celebnews
Typography

C&R Digital - Dari Hokkaido, Morgan Oey terbang ke Kyoto, kota yang masih mempertahankan tradisi kuno Jepang. Ia menginap di Ryokan, rumah tradisional warga yang dijadikan penginapan.

Puas berkeliling Hokkaido aku kemudian terbang ke Kyoto. Kota ini merupakan kota yang masih mempertahankan tradisi kuno Jepang. Sebelum pindah ke Tokyo di sekitar abad kesembilan belas, Kyoto merupakan Ibu Kota Jepang. Itu sebabnya di Kyoto banyak kuil dan bekas istana kaisar.

Di sini aku menginap di Ryokan, yaitu rumah warga yang masih bergaya tradisional yang dijadikan penginapan.

Di penginapan ini tidak ada sofa maupun tempat tidur. Duduknya dengan lesehan. Tidurnya pun di atas anyaman bambu. Masih menggunakan pintu model dorong. Di Kyoto ini masih ada budaya Geisha, yaitu wanita yang menguasai budaya kuno Jepang, seperti menyanyi lagu-lagu tradisional yang siap menemani tamu yang datang ke kedai minum teh tradisional.

Aku kemudian mengunjungi Pontocho, salah satu jalan yang cukup terkenal di Kyoto. Jalan ini terkenal sejak sekitar abad kedelapan belas. Pontocho sendiri berasal dari bahasa Inggris, point. Pontocho merupakan jalan yang di kanan-kirinya banyak terdapat tempat hiburan. Di sini berderet pub, kafe, restoran, hingga kedai tradisional tempat minum teh. Di Kedai minum teh ini dilayani oleh geisha, wanita yang mengenakan busana tradisonal Jepang.

Beberapa restoran di sini lokasinya berada di pinggir Sungai Kamogawa. Restoran itu meletakkan kursi-kursinya di pinggir sungai. Aku kemudian masuk ke salah satu restoran. Sehingga aku bisa makan seafood sambil menikmati pemandangan Sungai Kamogawa.

Di ujung jalan Pontocho ada teater yang sering mengadakan pertunjukan kesenian tradisional Jepang, yang dimainkan oleh para geisha. Puas berkeliling Pontocho, setelah hari makin malam, akupun pulang ke hotel. Mumpung sedang berada di Kyoto, keesokan harinya aku mengunjungi kuil Yasakan Shrine. Kuilnya sangat indah. Usia kuil tersebut sudah ratusan tahun. Di depan kuil banyak lampion. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdoa di kuil yang bersejarah ini.

 

BACA JUGA : 

Sempat Tertunda, Konser Air Supply Resmi Digelar Maret ini

Pasoa dan Sang Pemberani, Film Animasi 3D Buatan Siswa SMK di Kudus

Film Hom Pim Pah Film Petualangan Anak-anak Dibintangi Sherina dan Piet Pagau