Raffi Ahmad Minta Maaf, KPI Tetap Beri Sanksi

Celebnews
Typography

 

 

C&R Digital - Raffi Ahmad mengaku khilaf atas kesalahannya. Ia pun meminta maaf secara terbuka kepada wartawan atas perkataannya yang dinilai telah melecehkan profesi wartawan di Gedung Pers, Rabu (4/11). Meski sudah meminta maaf, sanksi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tetap berlanjut.

“Kami beri apresiasi pengisi acara meminta maaf, tapi sanksi tetap berlaku untuk Trans Tv sebagai lembaga penyiaran,” kata Komisioner KPI Agatha Lily saat dihubungi, Rabu (4/11).

KPI memutuskan memberi sanksi administrasi berupa surat teguran pada Trans TV terkait tayangan acara “Happy Show” yang disiarkan pada 1 November lalu. Teguran diberikan lantaran adanya pelanggaran terhadap aturan penyiaran, yakni percakapan antara Raffi dan Billy yang dinilai KPI tidak pantas dan dapat menyebabkan ketersinggungan dalam masyarakat khususnya profesi wartawan di Indonesia.

Berikut bunyi pembicaraan antara Raffi dan Billy: “Ngariung itu bahasa apa sih?”, “Ngariung itu lagi ngumpul. Ni misalnya lagi dikejar-kejar lo giniin aja duit ni, wartawan kan…setiap orang kan pasti mata duitan. Pas lari ke sana gw tinggal tarik dan wawancara, kelar ni.”

Agatha Lily mengatakan pelanggaran tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran atas norma kesopanan dan penghormatan terhadap etika profesi.

“Kami memutuskan bahwa program tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 9 dan Pasal 10 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 9 Ayat (2) dan Pasal 10. Berdasarkan hal tersebut, KPI Pusat memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis,” kata Lily.

KPI juga meminta kepada Trans TV agar segera melakukan evaluasi internal serta tidak mengulangi kesalahan yang sama. Trans TV juga diminta menjadikan P3 dan SPS KPI Tahun 2012 sebagai acuan utama dalam penayangan sebuah program siaran mengingat sudah banyak program Trans TV yang banyak melanggara pedoman siaran.

“Untuk semua lembaga penyiaran yang menggunakan frekuensi publik, kalau tidak bisa mengendalikan pembawa acara yang kemungkinan besar bisa timbul masalah, sebaiknya jangan memilih acara live karena berisiko,” Imbau Lilly.